Indonesia yang Kusuka: Alas Daun Pisang, Rantang dan Batik – Beberapa waktu lalu saya melihat prompt blogging di WordPress yang menanyakan, budaya lokal apa yang kamu suka? Wah, ini pertanyaan yang menarik banget. Tapi seringnya saya ngga punya banyak waktu untuk menulis di hari prompt menulis itu ada. Jadi saya baru terpikir menulisnya sekarang (psst sebelumnya saya menulis mengenai berkebun karena prompt menulis juga).
Jujurly, nggak semua kultur Indonesia saya suka dan anggap bagus. Tentu saja saya mengakui kekayaan alam dan budaya kita. Termasuk rupa-rupa makanannya yang kaya rempah dan unik. Tapi yah, namanya manusia pasti punya yang disuka dan tidak disuka.
Misalnya, saya tidak begitu suka dandanan pengantin tradisional yang warnanya bold alias terkesan menor. Meski begitu saya menghargai keunikannya dan kesannya yang berwibawa.
Sebenarnya ini bisa dibilang seri baru di blog Sunglow.me ini; Indonesia yang Kusuka. Semoga saja saya bisa rutin menulis seri ini ya. Untuk perdana, saya mau menulis mengenai alas daun pisang, rantang dan batik.
Alas Daun Pisang
Kerennya memakai daun pisang sebenarnya baru saya sadari setelah saya rutin memasak untuk keluarga dan memikirkan produksi sampah dari rumah sendiri. Seperti bulan puasa 2026 lalu, saya terpikir memakai lebih banyak daun pisang karena ingin meminimalisir banyaknya cucian piring.
Saya pikir, sampah daun pisang masih lebih ramah lingkungan dibandingkan sampah plastik. Tapi paksu keberatan karena daun pisang tetap akan menambah sampah. Di luar itu, saya tetap menganggap penggunaan daun pisang sangat oke, baik untuk kesehatan dan sangat mencerminkan budaya lokal. Misalnya kamu mau wisata kuliner di negara perairan ini, sangat mungkin kamu akan bertemu dengan daun pisang.
sumber foto: jernih.co
Ia juga multifungsi, bisa untuk berbagai makanan. Misalnya untuk membungkus makanan seperti pepes, lontong, otak-otak, nasi-nasian dan lain-lain. Kita juga bisa memakainya di dalam kukusan.
Menurut Fimela, daun pisang digunakan dalam kuliner Jawa karena dapat melindungi makanan dari kerusakan. Waktu itu juga belum ditemukan plastik sebagai solusi menyimpan makanan.
Memang, karena ia tidak tahan lama sehingga nggak selalu dijadikan opsi banyak orang. Memakai daun pisang, kita tidak perlu khawatir bahaya dari plastik seperti microplastic dan senyawa lainnya yang keluar jika kena panas.
Rantang
Saya dulu menganggap rantang itu jadul dan nggak fashionable, hihi. Melihat desainnya yang berbahan stainless steel, kadang dengan corak jadul kehijauan khasnya dan makin nggak oke ketika melihat di dalamnya ada makanan yang tidak kita suka.
Tapi kini saya melihat rantang sebagai solusi yang bagus banget untuk menyimpan makanan. Praktis, dengan model tumpuk dan bahan yang aman dipakai untuk wadah makanan. Dan bahan stainless steel juga mudah untuk dibersihkan. Penggunaannya juga berpotensi meminimalisir sampah karena bisa digunakan ulang.
Ternyata rantang berasal dari India. Dan kerap digunakan untuk mengantar makan siang untuk pekerja, dan keberadaan rantang jadi solusi untuk pengiriman yang kompleks. Nah saya pernah nonton film The Lunchbox (2013) yang memperlihatkan ramainya penggunaan jasa antar makanan ke pekerja kantoran.
Batik
Tradisi dan seni batik sangat dikenal di Indonesia. Awalnya sih saya menganggap batik itu jadul dan ‘berat’. Mungkin karena batik yang saya kenal waktu kecil adalah batik berwarna kecoklatan dan merah dengan motif yang terlihat ‘resmi’. Ini karena batik lazim dipakai sebagai seragam atau untuk acara formal seperti untuk baju lebaran dan pernikahan.
Tapi makin berumur saya makin terkagum dengan batik, mungkin mirip dengan kesukaan saya pada sambal. Khususnya karena pernah coba-coba membuat batik, ‘terpaksa’ karena merupakan salah satu tugas kuliah dulu. Mungkin melukisnya tidak begitu berat, tapi membuat titik-titik sebagai latar gambar batiknya itu susah banget dan menguji kesabaran.
Ketika saya membacakan salah satu cerita anak untuk si kecil, background ceritanya adalah seorang anak yang keluarganya merupakan penghasil batik. Ternyata warna batik dihasilkan dari ampas buah, yang menurut saya brilian sekali untuk mengatasi sampah makanan.
Batik sendiri diwarnai memakai malam, yang asalnya dari tumbuhan. Jadi, batik asli merupakan karya seni yang memakai bahan organik. Sementara pewarnaan memakai malam atau lilin ditemukan sudah ada sejak lama, yakni jaman Mesir abad ke 4 sebelum Masehi dan zaman dinasti China tahun 600an.
Tidak cuma itu, motif batik juga beragam. Tidak semua kelihatan ‘berat’ dan formal. Penggunaannya juga tidak cuma untuk baju, tapi untuk berbagai kebutuhan. Batik juga sudah mendunia dan dipakai di mancanegara.
Saya suka batik Cirebon yang terlihat playful dan penuh warna. Ternyata motifnya juga mirip seperti khas daerah Jawa Barat lainnya seperti di Cianjur. Nah ada banyak lho produk kerajinan Cianjur, seperti yang dibagikan di situs Blogger Cianjur ini.
****
Kalau dirangkum, saya suka bagaimana nenek moyang kita memanfaatkan sumber daya alam demi kebutuhan sehari-hari. Meski teknologi sekarang sudah sangat pesat, tapi jaman dulu telah pintar menggunakan bahan agar tidak membuang-buang bahan dan aman secara lingkungan.
Saya tidak tahu apakah ke depannya akan bisa menulis seri Indonesia Kusuka ini. Moga-moga bisa ya, karena topiknya menarik sekali. Kamu bisa juga cek tulisan Kreator Digital Cianjur ini untuk baca tulisan penuh makna lainnya.
Alas daun pisang, batik dan rantang cuma beberapa dari banyak budaya Indonesia yang keren. Nah, apa budaya Indonesia yang kamu suka dan kenapa?
