Aruna dan Lidahnya (2018): Wisata Kuliner dengan Bumbu Cinta Segitiga

Aruna dan Lidahnya (2018): Wisata Kuliner dengan Bumbu Cinta Segitiga – Rasanya saya belum pernah ya mengulas film Indonesia di blog Sunglow.me ini. Kebetulan bulan lalu saya habis menonton film Aruna dan Lidahnya (2018). Saya sempat bingung mau mengulas di blog ini atau yang satu lagi. Saya putuskan film ini cocok untuk diulas disini, yang kebetulan beberapa kali membahas mengenai kuliner Nusantara.

Bagi yang belum tahu, film ini dibintangi Dian Sastrowardoyo bersama Nicholas Saputra, Oka Antara dan Hannah Al Rasyid. Yuk baca dulu sinopsisnya:

Sinopsis Aruna dan Lidahnya (2018)

Aruna (Dian Sastrowardoyo) ditugaskan kantornya ke beberapa kota di Indonesia untuk meneliti mengenai kasus flu burung. Ia ditemani kawannya yang seorang koki profesional, Bono (Nicholas Saputra) yang ternyata juga mengajak kritikus kuliner, Nadezhda (Hannah Al Rasyid) selama bertugas keluar ke beberapa kota.

Di luar pengetahuan Aruna, saat ia ada di kota pertama yaitu Surabaya, mantan rekan sekerjanya, Farish (Oka Antara) mendadak juga menemaninya bertugas. Semua tidak ada masalah kecuali Aruna pernah menyimpan suka pada Farish.

Perjalanan mereka yang juga mendatangi kota Pamekasan (Jawa Timur), Pontianak dan Singkawang (Kalimantan Barat) diwarnai serunya wisata kuliner dan dobel cinta segitiga. Ditambah pula atmosfer panas-dingin antara Aruna dan Farish. Sementara itu Bono juga menyimpan rasa pada Nadezhda alias Nad. 

Ternyata dalam penelitian Aruna dan Farish ada beberapa kejanggalan, yang membuat Aruna menyimpulkan kasus flu burung ini tidak benar-benar ada. Situasi semakin rumit ketika Farish diketahui memiliki pasangan yang telah menikah.

Ulasan Aruna dan Lidahnya (2018)

Film Aruna dan Lidahnya cocok ditonton di akhir pekan atau saat santai. Aruna masih lajang dan bekerja kantoran di perusahaan penelitian di Jakarta. Karena itu dramanya lebih banyak ke kehidupan cinta, pekerjaan dan pertemanan.

Persahabatannya dengan Bono juga Nad terasa ringan dan easy-going. Tersirat bahwa mereka telah berkawan lama dan masing-masing suka dengan kuliner. Agak ganjil melihat DiSas dan Nicholas Saputra hanya ‘berteman’ setelah imej Rangga dan Cinta di film Ada Apa dengan Cinta (AADC) (2002) melekat di keduanya. 

Saya agak merasa hadirnya keduanya hanya sebagai sahabat sepertinya juga ingin ‘menutup’ imej sebagai pasangan AADC. Karena film yang disebut Aruna and Her Palate dalam bahasa Inggris ini dirilis setelah sekuel film yang jadi mark kebangkitan film nasional tersebut. 

Saya sih suka bagaimana film ini mengenalkan beberapa masakan lokal yang menurut saya belum begitu dikenal. Juga memperlihatkan mereka makan makanan street food, bukan di restoran mahal atau bergengsi. Bono dan Nad walaupun berprofesi kelas atas masih mau makan makanan gerobakan dan warung.

Penampilan Dian Sastrowardoyo dalam setiap perannya biasanya cukup total. Tapi saya tidak merasa karakternya sebagai Aruna adalah performa terkuatnya. Begitu pula chemistry-nya dengan Oka Antara. Memang rasanya susah menyaingi ‘setruman’ Rangga dan Cinta di AADC.

Hal-hal yang agak disayangkan lainnya adalah chemistry Dian Sastro yang terasa sedikit kaku dengan kamera. Karena beberapa kali Aruna berdialog dengan kamera seakan kita penonton adalah sobatnya. 

Hadirnya Bono dan Nad cukup menetralisir kekakuan hubungan Farish dan Aruna yang sering berdebat dan clash. Malahan Hannah Al Rasyid yang memerankan Nad sebagai perempuan yang supel dan asik juga pas menambah rasa. Karena Aruna yang suka makanan nasi goreng ini cenderung jutek dan tidak suka berbasa-basi.

Untuk menyeimbangkan kisah cinta dan pertemanan mereka berempat yang kasual, ada kisah penelitian flu burung yang ganjil. Hal ini membuat saya flashback ke masa penyakit tersebut sedang viral. Film ini jadi sedikit membuka mata saya, what was that disease sebenarnya, walau memang ini kisah fiksi (yang diadaptasi dari novel). 

Seperti halnya film-film road trip, karakter-karakternya juga mungkin mau escape dari kenyataan dan rutinitas mereka. Dan film ini tidak terkecuali demikian. 

****

Aruna dan Lidahnya masih seru ditonton (walau harus saya akui saya beberapa kali batal nonton karena keburu jenuh dengan intro-nya), bersama sahabat atau pasangan di waktu senggang. Dan, masih worth it ditonton bagi penggemar Disas dan Nicholas Saputra.

Film ini menambah deretan film Indonesia yang memberi highlight kuliner Nusantara, seperti Tabula Rasa (2014) dan Filosofi Kopi (2015). Mungkin ada film mengenai makanan dan travel di Jogja atau kota Indonesia lainnya? Semoga lebih banyak diproduksi ya, tentunya dengan kualitas yang bagus. 

Cek juga blog RianaDewie.com untuk membaca tulisan mengenai travel lainnya. Bagaimana menurutmu mengenai film Aruna dan Lidahnya atau film mengenai kuliner Indonesia? 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *