Ketika sedang memikirkan salah pilih baju demi tulisan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni 2026, saya menyimpulkan bahwa dalam 10 tahun terakhir..saya banyak memiliki kesalahan dalam memilih baju lebaran yang sesuai.
Tentunya mereka yang pernah berlebaran di Indonesia tahu, budaya memakai baju lebaran di negara ini cukup heboh dan memuncak jelang Idul Fitri. Nggak seperti di negara Arab, dimana hari Idul Fitri menjadi hari beristirahat. Di Indonesia justru hari Idul Fitri adalah hari bersilaturahmi ke keluarga-keluarga. Mungkin karena itu, pemilihan baju lebaran menjadi ekstra.
Mungkin juga karena jelang menikah, saya memutuskan berjilbab. Ketika kamu berjilbab, pemilihan dan pemakaian baju juga ikut beradaptasi. Jadi lebih berhati-hati memilih baju agar tidak menampakkan lekuk tubuh.
Tapi selain itu, juga ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan sih. Yah mungkin bisa dibaca pengalaman-pengalaman saya membeli dan memakai/tidak memakai baju lebaran di bawah ini. Cerita bonus saya tulis duluan untuk memperkaya tulisan:
Bonus: Beli Sendal Kesukaan Tapi Nggak Muat Lagi Dipakai
Sebelum tahu hamil, saya baru beli sendal kesukaan..yang ternyata dalam tahun-tahun berikutnya, saya jadi ngefans dengan merk footwear perempuan itu. Biasanya merk sendal perempuan cukup standar; entah feminin atau gaya Ibu-ibu klasik. Tapi saya suka style merk sendal/sepatu ini.
Saya sempat pakai saat lebaran tahun 2015, tapi ternyata setelahnya saya nggak bisa pakai lagi. Lantaran hamil, ukuran kaki saya membesar. Jadi kalau dipakai cuma setengah aja alas kakinya.
Dan karena overwhelmed dengan masa kehamilan dan pindah rumah, saya jadi lupa dan merasa hopeless merawat si sendal. Merawat sendiri aja ngos-ngosan waktu itu. Jadinya saya cuma pakai sebentar saja sesaat sebelum hamil, sebelum akhirnya rusak dan terbuang (ish, sayang banget).
Pelajaran: Saya ngga tahu akan hamil waktu beli si sendal, tapi seharusnya sih saya lebih hati-hati merawat barang. Masa hamil kan cuma sebentar, jadi kalau masih terawat sendalnya bisa dipakai lagi.
Ngga Jodoh dengan Baju Lebaran Sendiri
Setelah menikah, hari lebaran jadi lebih sesuatu karena kita juga hadir di keluarga suami. Karena baru menikah, saya merencanakan pakai baju lebaran yang proper. Mantu baru ya harus baik jugalah penampilannya, begitu mindset saya waktu itu.
Tapi entah kenapa 2 tahun pertama, saya selalu batal pakai baju lebaran yang sudah saya siapkan. Berturut-turut.
Tahun pertama, saya dan suami ada rencana singgah ke tempat lain sebelum ke rumah mertua. Karena pakai motor dan berpikir akan balik lagi ambil baju lebaran, saya ngga bawa bajunya. Ternyata suami memutuskan lebih baik langsung ke rumah mertua karena sudah siang. Jadinya saya cukup pakai gamis sehari-hari saja.
Di rumah mertua, di luar dugaan saya .. mertua dan adik-adik suami cuma pakai baju sehari-hari.
Tahun kedua, saya lupa lagi kenapa saya nggak pakai baju lebaran yang sudah saya beli. Saya sudah beli gamis (yang sengaja saya beli biar bisa dipakai juga ke acara semi-formal/formal).
Entah karena menggebu-gebu menyambut lebaran, jadi mempengaruhi keputusan saya memilih baju lebaran. Saya tersadar baju yang saya beli itu terlalu mewah, ngga nyambung dengan gaya keluarga suami. Jadi meskipun saya bisa pakai baju itu, akhirnya saya memilih tidak memakainya.
Sebenarnya ngga masalah sampai ternyata jadwal hari itu juga harus ke rumah nenek suami. Dan…akhirnya saya jadi dipinjami baju mertua, hahaha… Rasanya absurd deh, walau baju dari mertua juga ngga masalah sih. Ternyata hari itu berjalan baik-baik saja walau saya nggak pakai baju lebaran yang direncanakan.
Hikmahnya; pakai baju lebaran nggak usah terlalu resmi atau formal. Toh keluarga suami juga berpenampilan seperti hari-hari biasa. Kalau dipikir lagi, baju terlalu resmi akan lebih jarang dipakai juga.
Baju Bagus Tapi Gerah
Tahun itu kalau ngga salah saya sudah mengandung si kecil. Sepertinya karena pertimbangan keamanan kandungan di jalan mau ke rumah mertua, kami jadi ikut naik mobil saudara suami.
Salahnya saya, bajunya bahan chiffon yang ngga menyerap keringat dan gerah. Ditambah lagi di jalan macet dan terik, makin menjadi gerahnya.
Dan sudah tentu, hari lebaran dihabiskan dengan bersilaturahmi seharian. Akhirnya sepanjang hari agak tersiksa karena baju yang gerah.
Yah, habis itu saya udah ngga mau lagi pakai bahan chiffon di.. cuaca terik tropis di Indonesia. Ternyata bukan cuma bahan chiffon sih yang dipakai gerah.
Bahan-bahan seperti jersey walau lebih adem, tapi menimbulkan bau tak sedap kalau berkeringat. Ada pula bahan lainnya yang saya agak lupa sih bahannya apa.. walau motifnya cantik tapi gerah dipakai.
Jadi selang beberapa tahun kemudian, saya masih salah pilih bahan di baju lebaran. Pernah juga beli baju merk artis berhijab, motifnya manis dan unik. Sayangnya…gerah. Akhirnya saya kasih orang bajunya.
Kira-kira dari 4-5 tahun lalu saya sudah ‘ketok palu’ pilih baju lebaran harus yang adem.
Hikmahnya: Apalah arti model bagus, branded, hype, harga terjangkau tapi gerah? Akhirnya jarang atau malah tidak dipakai.
Bahan Sudah Adem, Tapi Salah Pilih Warna
Oke, setelah mengantongi pengalaman memilih baju lebaran yang gerah, jadinya lebih ngerti cari baju lebaran yang sesuai. Tahun itu saya tadinya ngga mau beli baju lebaran. Tapi rasa dan arus menuju lebaran begitu kencang, akhirnya saya browsing baju di toko oren.
Dapatlah 1 baju bahan rayon di toko online langganan. Ngga ada lagi baju yang adem selain yang warnanya hitam dengan motif ke-batik-batikan. Saya sih suka bajunya. Pas juga dengan baju koko kaos favorit si kecil, warna hitam.
Ternyata hari lebaran cuaca lagi panas sekali. Mungkin juga khimar yang saya pakai ngga gitu menyerap keringat jadi faktor pendukung kegerahan.
Waktu silaturahmi ke rumah Ibu di Jakarta, kayanya Ibu saya kasihan lihat gerahnya saya. Jadi ia menawarkan sekalian saja mandi di rumah. Kebetulan sih saya bawa baju ganti.
Hari itu bersyukur banget bisa menyempatkan mandi sebelum ke rumah mertua lagi. Alhamdulillah. Kalau dipikir-pikir lucu aja sih.
Pelajaran: janganlah pakai baju hitam di momen akan seharian di jalan di negara tropis, walau bahannya adem.
Beli Baju Online Salah Ukuran
Jadi ingat waktu kecil, ibu saya suka mengajak cari baju lebaran ke Jakarta Selatan, seperti Blok M dan Menteng. Padahal rumah saya waktu itu di daerah Timur. Kalau dipikir-pikir, cari baju aja bisa seharian. Pulang udah capek dan mau buka puasa.
Saya merasa beruntung di era sekarang bisa beli baju online. Waktu jalan ke pertokoan malah ngga minat karena lebih banyak variasi dan ukuran di internet. Tapi membeli baju online ngga selalu sempurna.
Kira-kira 3 tahun lalu (masih di momen yang sama beli baju batik hitam), saya sengaja pilih set baju yang ‘katanya’ bahan bagus. Yaitu bahan Mina yang katanya Anti UV.
Padahal sih sudah pre-order tapi ternyata bajunya agak kebesaran dan sudah tentu agak kepanjangan. Repotnya lagi, saya baru sadar bajunya kebesaran beberapa hari sebelum lebaran.
Nah kalau mau ke tukang jahit lagi, waktu saya sudah padat. Belum lagi saya nggak tahu tukang jahitnya bisa bagus atau tidak merapikannya. Atau penuh orderan.
Jadinya saya ngga jadi pakai di hari lebaran. Pakainya kalau jalan-jalan ke tempat ber-AC dan lantai bersih, haha.. Ternyata bahan Mina nggak seadem bahan rayon.
Jadi? Tolong lebih teliti dengan ukuran ya, Mbak (ngomong ke diri sendiri). Sayang juga waktu saya ‘menjelajah’ di dunia maya jadinya jarang pakai karena kurang teliti.
Dalil & Hikmah Dalam Memakai Baju Lebaran di Islam
Sudah kepala 4, harusnya saya lebih bijak menghadapi ‘godaan’ beli baju baru dan juga lebih peka memilih baju, walaupun online. Perempuan memang dari sananya suka bersolek, tapi hal ini sering jadi bumerang.
Kalau dilihat dari hadisnya, di hari Ied dikatakan untuk memakai baju paling bagus yang kita punya, namun bukan berarti harus baju baru. Dan memakai baju yang bagus di hari Ied adalah bentuk syukur.
Apa gunanya hari itu disebut hari kemenangan kalau kita ngga menikmati waktu..karena terkendala baju tidak nyaman?
Semoga dengan serentetan pengalaman tidak mengenakkan ini jadi lebih hati-hati dalam memakai baju lebaran ke depannya.
Hari itu harusnya jadi hari kemenangan karena telah berusaha maksimal beribadah puasa di bulan Ramadan dan sunnah selama sebulan. Bukan cuma karena baju.
Kalau menurutmu, apa yang penting dalam memilih baju untuk hari lebaran atau hari spesial; model, harga, kenyamanan atau lainnya? Yuk bagikan di kolom komentar.
