Antara Kardus dan Kenangan: Hari-Hari Menjelang Pindahan

Antara Kardus dan Kenangan: Hari-Hari Menjelang Pindahan – Tadinya cuma becandaan tentang topik menulis Tantangan Mamah Gajah Ngeblog Mei 2026.Tapi karena kepala lagi penuh urusan pindahan rumah, akhirnya beneran dijadiin tulisan.  

Habis subuh saya merenung tentang beberapa kali saya pindah rumah.Ternyata saya sudah 7 kali pindah rumah dalam 12 tahun menikah. Ya ampun. Dihitung sejak setelah menikah hingga sekarang. Ngga nyangka sudah sebanyak itu.

Tiap pindah rumah punya banyak cerita. Yang pasti satu: kami nggak pindah kalau nggak terpaksa. Tapi selalu ada hikmahnya; setiap rumah punya kekurangan dan kelebihan. Yang sempurna ada, tapi siapkan budget-nya, hehe…

Menjelang Pindahan: Rutinitas + Packing 

Karena suami masih mengurus pekerjaan jadi hari-hari sebelum pindah rumah masih seperti biasa. Tambahannya cuma cicil mengemas barang, bebenah dan memilah barang yang tidak dibutuhkan. Kini si kecil bisa sedikit membantu, walau tetap sambil diawasi.

Bongkar pasang barang wilayah paksu tapi packing banyak dari saya yang urus. Ternyata yang membuat saya pusing bukanlah kemas-kemas barangnya. Tapi sistem mengorganisirnya. 

Saya relatif ngga suka mengemas barang asal cemplung ke dalam boks. Setiap kardus/wadah harus punya kategori. Bahkan buku anak saya punya subkategori. Boks berisi komik saya pisahkan dari buku cerita (cemplungan si kecil ke boks saya pisahkan lagi).

Sejak sebelum pindahan ini bahkan saya beri post-it warna disesuaikan label ruangan.Tips ini saya dapat dari blog di Pinterest (sayangnya lupa namanya), dan ternyata berguna sekali. 

Bukannya saya neat freak (gila rapih/kebersihan) atau apa, bahkan tidak sama sekali. Tapi hal ini akan memudahkan saya unpacking atau memuat barang kembali di rumah baru. Karena cenderung mudah overwhelmed dari visual atau pandangan. 

Pengalaman melihat ruangan penuh dengan kardus dan kantung plastik tanpa ada keterangan apa-apa membuat saya pusing (karena saya harus membereskan tanpa ada visual clue). Karena tiap buka kardus ternyata punya PR sendiri (masuk ruangan mana dan isinya benda-benda apa). 

Visual clutter dalam rumah ternyata mempengaruhi stres. Rumah yang berantakan, sadar atau nggak, bisa bikin mood ikut negatif. 

Kalau kamu seorang yang suka menumpuk barang atau hoarder, mungkin ada sesuatu yang memicumu susah melepas barang. Salah satunya adalah susah melepas kenangan dan takut barang itu akan dibutuhkan di masa depan.

Yang juga saya sadari di pindahan kali ini: hal-hal yang dulu saya abaikan, akhirnya harus saya bereskan sendiri (atau berdua).  Maklum deh kita pindahan secara mandiri. Belum memakai bantuan berbayar. Sudut-sudut yang biasanya saya abaikan karena kurang urgent jadi kini harus saya perhatikan dan kosongkan.

Kami kini pelan-pelan packing dan memindahkan barang ‘kecil-kecil’ ke rumah baru. Sembari juga menjalankan rutinitas biasa. Masih mengurus rumah dan menyiapkan makanan. Tapi ada kegiatan ekstra mengemas dan bebenah.

Kali ini saya lebih perhitungan dalam merapikan barang. Jadi membagi-bagi barang mana yang masih sangat diperlukan dan mana yang sudah bisa diangkut.

Dan kini, saya harus membiarkan rumah sedikit lebih berantakan dari sebelumnya karena ingin disiapkan untuk dibawa ke rumah baru. Ini juga yang tidak biasa dalam rutinitas biasa.

Apakah ada excitement menempati rumah baru? Tentu saja ada. Tapi kini saya masih fokus mengosongkan rumah.

Packing Jadi ‘Membuka’ Memori Lama

Saat memilah barang termasuk barang lama yang sudah tidak dipakai, hingga ke lemari dan laci-laci bawah atau atas yang jarang dijangkau, mau tidak mau jadi teringat memori barang terkait.

Misalnya saat menyortir buku-buku belajar anak. Saya teringat tahapan belajar anak sebelum sekarang. Karena kami homeschooling mandiri, jadi tidak ada batasan kelas atau milestone resmi. Saya teringat perjalanan saya menemukan cara mengajar anak yang pas.

Buku-buku yang dulu ia suka dan mainan-mainan. Bekas barang prakarya dari kelas atau project yang ia kerjakan. That’s something, walau mungkin kalau dilihat orang lain biasa saja.

di rumah ini jadi suka gardening tipis-tipis,
tapi cabai (kiri) tumbuh dengan sendirinya

Barang-barang yang dulu saya beli karena sedang semangat go green dan ingin fokus giat olahraga. Baju-baju lama sebelum di fase sekarang, dari seragam kerja sampai jaket dan pashmina lama.

Packing memang selalu suka jadi membuka memori. Tapi mungkin beberapa kali pindahan rumah membuat logika saya lebih menang. Nggak lama-lama mengenang, saya lebih cepat move on ke sortir; disimpan atau dibuang. Karena nggak mau buang waktu, haha.. Waktu emak berharga.

Kali ini karena si kecil pertama kali membantu mengemas, dialah yang jadi masuk ke mode mengenang, “Oh iya ya dulu aku suka main ini.” Atau, “Wah buku ini, dulu aku suka sekali baca.” 

Dan benda-benda yang ia sudah tidak lagi suka pakai, saya tawarkan dibuang dan responnya, “Disimpan dong. Sayang!” Si kecil sama seperti saya…tapi duluuu sekali.

Packing vs Mencari Rumah: Lebih Capek yang Mana? 

Si kecil ikut packing dan saya minta beri nama di boks,
tapi juga ditambahkan emoji

Kalau packing mungkin lebih lelah fisik, tapi mencari rumah (fase sebelumnya) itu lebih melelahkan batin. Sepertinya beberapa kali pindahan, saya ngga mengalami lika-liku seperti kali ini. 

Mencari rumah kali ini di sela bulan puasa dan lebaran. Plus sakit yang saya ceritakan di tulisan BB Turun Karena ‘Cuek’.

Mungkin karena mindset kami sudah keburu mikir pindahan itu ribet, sehingga akhirnya dalam prosesnya mengalami agak naik-turun. Memang era sekarang lebih mudah mencari rumah karena bisa daring. Tapi banyak pula downside-nya.

Foto-foto online tidak memperlihatkan semua dan apa adanya rumah dibanding dilihat langsung. Belum lagi ternyata ketika survey, jalan ke rumahnya jauh dan berliku. 

Lalu yang lebih penting lagi adalah si pemilik rumah. Beberapa kali mau sewa rumah, saya belajar bahwa pemilik rumah yang amanah itu sama pentingnya dengan rumah yang decent

Pemilik rumah yang baik akan merapikan rumah sebelum ditempati—entah sebelum atau sesudah dibayar sewanya. Dia juga menghargai waktu calon penyewa dengan commit waktu janjian survey.

Kali ini kami banyak ketemu owner yang kurang klik. Karena kurang siap untuk dilihat rumahnya. Entah cuma masalah kunci rumah yang lupa dibawa atau kunci rumah ternyata dipegang satpam (yang waktu didatangi sedang tidak jaga).

Kali ini mungkin situasi ekonomi masyarakat secara umum sedang tidak sebaik terakhir kami pindahan. Beberapa pemilik rumah menanyakan kami jadi atau tidak menyewa sembari mengatakan ada calon penyewa lain (mungkin ini memang usaha mempercepat deal). Pemilik cenderung lebih aktif menanyakan ke kami dibanding sebelumnya.

Mungkin karena kepala saya sudah penuh ditanya demikian sementara kami belum survey ke tempat lain jadi makin pusing. Takutnya rumah itu diambil penyewa lain dan nggak tahu apa ke depannya ketemu yang lebih cocok.

Alhamdulillah sudah ketemu rumah yang menurut kami cocok. Dan insya Allah pemiliknya baik dan amanah.

Pikiran Masih Ngeh dan Nggak Ngeh

Walau fisik dan pikiran rasanya masih belum benar-benar aware mau pindah, ini hari-hari terakhir di rumah ini. Dalam beberapa hari kami harus mengosongkan rumah.

Rumah sekarang sebenarnya rumah yang saya juga ngga begitu naksir amat. Tapi dengan berbagai kelebihan, ada juga kekurangannya. Kekurangan yang buat saya minta pindah awal tahun ke suami. 

Dan ternyata nasib memilih kemauan saya ini. Rumah ini mengajarkan saya lebih apik dalam mengurus tempat tinggal. Dan bagaimana caranya agar hewan pengerat ngga suka datang. 

Serius, saya lelah banget dengan kedatangan tikus dan ‘hadiah’ yang hewan itu beri. Saya sampai berjanji ke suami di rumah baru mau lebih ekstra bersih-bersih karena udah cape hati dengan hewan itu.

Meski begitu, rumah ini jadi tempat keluarga mungil saya belajar lebih kompak. Lebih banyak tawa dan kegembiraan, insya Allah.

Dan di rumah baru nanti, insya Allah kami bisa merangkai lagi memori-memori yang manis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *