Serial Long Vacation (1996), Menjalani Jeda Setelah Kegagalan – Setelah menonton Romantic Anonymous dan kemudian satu serial Jepang lainnya, saya jadi optimis bahwa memilih dorama (drama Jepang) mungkin lebih memuaskan saya dibanding drama Korea?
Lalu karena saya lagi tertarik dengan hidup analog dan kangen masa era 90an, saya putuskan untuk menonton serial Long Vacation (1996). Kalau kamu generasi milenial, kemungkinan kamu pernah menonton serial ini di saluran TV sore hari di tahun 2001.
Saya sendiri dulu cuma kebagian credit title-nya karena saya kepengen nonton serial setelahnya. Kemungkinan adalah serial yang saya tunggu itu kartun, karena saya masih usia sekolah saat itu.
Saya selalu lupa mau menonton serial itu tapi saya selalu ingat lagu yang jadi musik opening dan ending title. Namun saya juga ingat alasan ngga ngebet menontonnya, adalah karena saya telah menghakimi ceritanya sebelum benar-benar nonton. Bayangkan saja, cerita seri ini adalah mengenai wanita usia 30an memaksa tinggal di apartemen dengan lelaki usia 20an yang kebetulan berparas tampan.
Ya memang ketika zaman dorama ada di saluran TV, kesan saya bahwa pria Jepang cenderung ‘dingin’ dan wanitanya lebih agresif mengejar mereka. Belum tentu kenyataannya begitu loh ya, hanya sering aja terlihat di serial-serial mereka. Tapi ya masa sih wanitanya harus memaksa tinggal di apartemennya juga?
Ternyata saya terlalu cepat menilai Minami, si wanita usia 30an yang jadi karakter utama di serial ini. Eits, ternyata serial ini mau di remake lho, rilis tahun 2027 kabarnya. Lanjut saja yuk ke sinopsis Long Vacation:
Sinopsis Dorama Long Vacation (1996)
Suatu hari seorang perempuan menggedor pintu apartemen Sena (Takuya Kimura). Dia adalah Minami (Tomoko Yamaguchi), perempuan yang akan menikah dengan lelaki teman seapartemen Sena. Ternyata laki-laki itu meninggalkan Minami di hari pernikahan mereka untuk bersama wanita lain, yang ia klaim ‘lebih rapuh dibanding Minami’.
Tak punya tempat tinggal, Minami memutuskan untuk tinggal di apartemen Sena dengan cara ‘menodong’-nya langsung. Ia telah membawa perabot untuk dipindahkan ke apartemen Sena sebelum menanyakan izin Sena. Walaupun tidak suka, lelaki yang kebingungan itu mengiyakan karena ia sedikit merasa bersalah sudah mengenalkan mantan kekasih Minami pada wanita yang ia pilih dari Minami.
Sena yang seorang guru piano menyimpan rasa pada Kyoko (Takako Matsu), pianis berbakat yang sering bertemu di kampus dan tempatnya bekerja. Tapi ternyata sebelum hubungan Kyoko dan Sena berkembang, Kyoko kepincut adik Minami, Shinji (Yutaka Takenouchi) yang sudah punya kekasih.
Sementara itu Minami yang tidak lagi laku berprofesi sebagai model kesulitan mencari pekerjaan. Sena menghiburnya dengan berkata bahwa Minami mungkin harus menganggap hidupnya sebagai ‘long vacation’ alias liburan dari tuntutan hidup dan tekanan untuk menikah.
Sena sendiri mengalami krisis kepercayaan diri atas kemampuannya bermain piano. Mentornya mengatakan ia seperti memiliki ‘dinding’ ketika bermain piano dan kurang memakai perasaan. Keduanya saling mengisi kekosongan hidup karena merasa di fase yang stagnan.
Ketika Minami bertemu fotografer yang mengajaknya berhubungan serius, hubungan Minami dan Sena memiliki tantangan dan dalam persimpangan.
Serial yang Masih Relevan di Masa Kini
Meskipun saya butuh waktu untuk menyesuaikan diri akan kekurangan kualitas videonya dan latarnya yang terasa gelap (saya mungkin sudah manja karena sering melihat layar dengan kualitas bagus masa kini dan kemungkinan restorasi serial ini kurang optimal), dorama tahun 90an ini memiliki pesan yang masih relevan hingga sekarang.
Ceritanya mengingatkan saya juga akan masa saya belum merasa berhasil di masa lebih muda, hihi. Poin-poin yang saya maksud seperti ini:
Kisah Tentang Mengejar Mimpi
Dari diri Sena, kita melihat seseorang yang memiliki bakat belum tentu berhasil dalam bidang yang ia tempuh. Terkadang kita terlalu fokus akan kesempurnaan sehingga lupa memakai perasaan dalam melakukannya. Dan, ada rasa ketidakpercayaan diri yang bisa hadir karena kritik dari luar juga dalam.
Sikap Sena yang ragu-ragu juga terlihat dalam usahanya mendekati Kyoko. Dari sisi Kyoko sebagai perempuan ini menarik, dia mungkin lebih menyukai lelaki yang yakin akan keputusannya. Sehingga ia tidak menganggap Sena cukup ‘lelaki’.
Saya rasa dalam usaha mengejar mimpi ada rasa kelelahan batin jika kita belum mencapai goal kita setelah beberapa lama. Ada rasa takut gagal mencapai target, takut memperlihatkan perasaan/kerapuhan dalam berkarya dan memilih nyaman dalam ‘gelembung’ yang nyata, yakni pekerjaan yang lebih ‘memijak bumi’.
Hal ini juga sangat relatable bagi kita, yang mungkin punya mimpi menjadi seniman, musisi atau di bidang seni lainnya. Kadang sulitnya mencapai titik yang kita mau membuat kita beralih ke pekerjaan yang lebih stabil dan aman. Dan itu hal yang bisa dimaklumi dan wajar saja.
Dari hidup Sena mengingatkan saya bahwa perasaan ragu-ragu, pasif dan takut gagal jadi menghambat kesuksesannya. Dan ia menghambat dirinya sendiri dengan menyimpan perasaan-perasaan negatif itu. Dari segi karir maupun kehidupan cinta.
Cerita Perempuan di Usia Matang Mendapat Tekanan Sosial
Ada banyak hikmah yang bisa didapat dari kisah Minami. Dia bukan sosok perempuan yang tidak tahu malu seperti yang saya hakimi sebelumnya. Keputusannya yang terlihat ‘serabat-serobot’ saya anggap dikarenakan ia berusaha survive akan rencana-rencananya yang gagal dan berusaha agar tidak terpuruk. Karakternya yang ceria dan suka tertawa sering kali adalah sebuah usaha menutupi kesedihan dan kecanggungannya.
Saya lebih suka ia bersama sosok yang lebih dewasa, seperti Sugisaki, fotografer yang naksir dirinya. Karena Sugisaki terlihat bisa lebih ngemong ke Minami. Sugisaki bisa memahami Minami tanpa Minami menceritakannya. Saya sama sekali tidak melihat kecocokan Minami dengan Sena hampir sepanjang serial.
Di masa sekarang, sudah bukan hal yang baru ketika perempuan di usia 30an belum menikah dan berpasangan dengan sosok yang dinilai belum sematang dirinya. Saya rasa Minami adalah contoh dimana tekanan sosial belum tentu cocok dengan timeline hidupnya. Saya bisa bayangkan tekanan sosial di dekade 90an lebih besar dibanding masa 2020an seperti sekarang. Untungnya Minami berada di circle pertemanan yang easy going saja.
Dan hal ini banyak terjadi di antara kita semua. Tidak semua mendapatkan jodoh di usia ideal dan tidak semua mendapatkan pekerjaan yang membayar kebutuhan kita dengan instan. Saya melihat Minami tidak pernah patah semangat dan terus bangkit walau sering ditolak setelah wawancara kerja.
Pun ketika disakiti orang lain, ia tetap saja berbesar hati dan tersenyum lebar. Ia juga menunjukkan bahwa ketika kita mau dan cuma belajar dalam waktu singkat kita bisa meraih target.
Hikmah Mengambil Long Vacation di Hidup Kita
Tidak semua fase kehidupan mungkin mulus seperti bola bowling langsung masuk gawang. Mungkin waktu ini bisa jadi waktu untuk refleksi diri dan memperbaiki diri untuk fase selanjutnya. Satu kegagalan kita bisa membawa ke fase selanjutnya, itulah mungkin kisah hidup Minami.
Ada masa-masa dimana saya tidak tahu arah hidup saya akan dibawa kemana. Lalu passion saya tidak sesuai dengan profesi. Saya sih akhirnya menerima bahwa pekerjaan saya yang terbaik untuk saya dan Alhamdulillah saya masih di bidang kreatif.
Fase menunggu mungkin bisa terasa buntu atau bikin frustasi. Tapi fase itu sering jadi fase persiapan diri agar siap ke tahap berikutnya. Kadang-kadang fase itu menjemukan, tapi mungkin itu masa rehat agar siap ke fase selanjutnya yang mungkin ‘beradrenalin tinggi’.
******
Serial dorama Long Vacation mungkin belum tentu bisa terjadi di masa sekarang. Atau beberapa hal akan berbeda. Tapi tidak dengan gaya fashion, uniknya masih terlihat modern ketika saya nonton tahun 2026 ini.
Perbedaan yang bisa terjadi, misalnya ketika Minami menganggur dan malah mengobrol dengan Sena di sisi pianonya, bisa jadi tidak kejadian karena di masa kini Minami sibuk melamar kerja via internet. Lalu, waktu luang mereka main basket mungkin juga nggak terjadi karena keduanya malah main game online atau menonton layar.
Tapi yang pasti setiap orang punya ‘liburan panjang’-nya masing-masing. Bagaimanapun cuma alat menghabiskan waktunya saja yang berbeda. Alur hidup terus menyesuaikan usaha kita.
Bagaimana menurutmu tentang serial Long Vacation dan tekanan sosial kepada wanita yang belum menikah?
