SHD#18: Heart Rate Drama – Semingguan ini terjadi sesuatu yang mungkin harus dikhawatirkan (mm, atau ya coret deh kata ‘mungkin’). Yaitu heart rate atau detak jantung per menit saya ternyata kelebihan..saat seharusnya tidak.
Akibatnya, terjadi sesuatu yang saya nggak sangka..padahal saya selalu bergantung pada hal ini ketika merasa kurang istirahat. Selengkapnya, ada di bawah ini…
Kesibukan Tinggi, Tidur dengan Napas yang Tidak Santai
Sekitar seminggu lalu, kesibukan saya lumayan banget. Tidak cuma dari mengurus rumah, mengurus belajar anak tapi juga pekerjaan lepas.
Ketika saya tidur, suami tersadar napas saya cenderung lebih cepat dari normal. Ketika ia cek heart rate di jam saya, ternyata melebihi 100 bpm.
Dan menurut informasi yang saya tahu, detak jantung normal ketika istirahat atau tidur adalah antara 60 hingga 100 bpm. Loh??
Kalau dilihat perbedaan aktivitas dari beberapa bulan ini, bedanya saya ditambah sibuk kerjaan lepas. Tapi sebenarnya, saya sudah melakukan pekerjaan freelance sejak beberapa tahun terakhir. Kenapa kali ini jadi perhatian?
Pertama, mungkin dulu saya nggak memperhatikan heart rate. Kedua, jam tidur saya suka larut malam akhir-akhir ini. Ketiga, umur (dan mungkin hormon). Ke empat, stress dan cemas. Dan kelima, mungkin juga karena konsumsi kafein yang agak berlebih serta kurang minum air putih.
Ternyata faktor-faktor itu memberi pengaruh ke detak jantung kita.
Mencoba Stop Kafein dan Berdayakan Tidur Siang
Suami menyuruh saya cut off minum kafein. Alamak! Selain itu, saya juga diwajibkan tidur siang. Sebelumnya, saya tidak rutin menyempatkan napping setelah makan siang. Memang saya sempat dengar bahwa wanita usia 40 tahunan sebaiknya tidur cukup.
Saya sadar bahwa konsumsi kafein saya dari pagi, walaupun minum air teh tawar. Kemudian minum teh tarik kemasan. Lalu sorenya konsumsi kopi. Terkadang kalau saya sangat mengantuk, takaran kopinya saya tambah sedikit.
Akhir-akhir ini saya juga agak sering jajan kopi. Karena memanfaatkan sedang keluar rumah atau sedang mau jajan.
Ibu saya menyarankan saya tidak memaksakan diri membersihkan rumah. Katanya, “Berdamai dengan keadaan”. Jujur saya ngga sangka akan diberi pesan kepada Ibu saya seperti ini, soalnya dulu saya paling santai untuk urusan rumah. Sementara Ibulah yang paling nggak bisa diam mengurus rumah kami dulu.
Dan saya pun benar-benar berhenti mengkonsumsi kafein. Pagi saat sarapan, saya memilih minum air hangat. Bisa saja sih minum air jahe, tapi saya ngga bisa berlama-lama prepping sarapan.
Saya pun ngga minum teh tarik seperti biasa. Biasanya saya minum jelang makan siang.
Sore? Saya ganti minum kopi dengan minum air kelapa kemasan. Klaimnya sih tidak menggunakan pengawet dan pemanis. Bismillah.
Kondisi ini nggak membuat saya jadi tidak melakukan outdoor activity. Seperti jalan untuk membeli sayur dan kebutuhan rumah di sekitar komplek. Soalnya mau nggak mau, kalau kebutuhan sedang habis.
Memang agak berat awalnya. Atau di masa saya ngantuk. Alhamdulillah suami benar-benar memastikan saya tidur siang dan cek heart rate saya tiap tidur malam.
Jadi Apa Penyebabnya?
Kondisi ini membuat saya berpikir macam-macam. Sempat panik tapi mungkin karena sibuk saya jadi ngga sempat kedorong ke rasa itu. Lalu ada juga rasa pasrah dan mikir kemungkinan terburuk.
Tapi Alhamdulillah, saya melihat kekhawatiran suami dan reaksi anak walau sesaat.. Dari suami khususnya, baru terlihat bahwa ia juga nggak ambil kondisi ini dengan ringan dan lewat begitu saja.
Analisa saya, penyebabnya adalah stres dan ditambah konsumsi kafein yang agak kelebihan. Karena setelah memperhatikan hari-hari dimana heart rate saya naik saat tidur, itu adalah hari-hari saya khawatir tentang agenda besok.
Sepertinya berhubungan juga dengan kondisi pre-eclampsia yang saya alami ketika hendak melahirkan si kecil. Waktu itu memang tekanan darah saya tinggi dan melahirkan secara Caesar.
Setelah saya baca-baca, sangat mungkin kondisi jantung saya terpengaruh kondisi saya melahirkan 10 tahun lalu. Walau, tidak menampik juga terpengaruh hal-hal yang sudah saya sebut tadi.
What’s Next?
Saya masih belum konsumsi kafein. Lalu, masih berusaha menjauh dari perasaan stres. Berusaha menjalankan gaya hidup sehat dan cukup minum air putih.
Oh ya, saya pun ingin mengkonsumsi lebih banyak makanan biji-bijian, tidak selalu makan goreng-gorengan dan mengkonsumsi buah berry. Menurut sumber, inilah makanan yang baik dikonsumsi untuk jantung sehat.
Dan tidak lupa, menyempatkan olahraga. Hari ini saya memutuskan melakukan Yoga, karena waktu olahraga di rumah sangat sore dan memikirkan kondisi jantung. Saya jadi berpikir mungkin akan rutin olahraga yoga setelah ini.
Doakan saja kondisi saya baik dan sehat, juga selalu dalam lindungan-Nya. Saya tetap kok memiliki keinginan lebih banyak olahraga dan berwisata seperti di blog Travel Blogger Medan ini. Until next seri Sunglow Healthy Diary. Semoga tulisan ini bermanfaat ya.
