Berkebun, Skill yang Ingin Dikuasai Secara Instan

Berkebun, Skill yang Ingin Dikuasai Secara Instan – Sebuah prompt blogging dari WordPress dengan pertanyaan itu (skill apa yang secara instan mau kamu kuasai?) membuat saya tersadar. Bahwa kalau ada keterampilan yang ingin saya kuasai dalam sekejap, mungkin itu adalah berkebun. 

Di tengah kondisi ekonomi dan situasi saat ini, kemampuan berkebun bisa menjadi skill yang sangat berguna. Lalu saya juga menyadari bahwa selama beberapa tahun terakhir saya sering melihat reels atau konten tentang berkebun. 

Bukan hanya berkebun, tetapi juga tentang gaya hidup yang berpusat pada menanam dan mengkonsumsi makanan dari kebun sendiri.

Kalau dipikir-pikir, minat saya terhadap berkebun ternyata tumbuh melalui proses yang cukup panjang. Ternyata semua bermula dari rumah.

Ibu (dan Ayah), Dua Orang yang Mengenalkan Saya pada Berkebun

Ibu saya berhasil membuat taman yang cukup indah di rumah kami. Isinya sebagian besar tanaman hias dan anggrek. Ada juga tanaman yang mudah dirawat seperti pandan. 

Selain itu, ada pohon mangga dan jambu. Kini saya baru sadar beruntung banget kalau punya pohon mangga di rumah. 

Ayah saya pernah mencoba menanam jeruk, meskipun usahanya tidak terlalu berhasil. Seingat saya beliau juga pernah menanam beberapa tanaman herbal, tetapi saya sudah lupa tanaman apa saja.

Salah satu Anggrek di kebun belakang rumah Ibu (foto lama)

Sementara itu, ibu memang lebih menyukai anggrek dan bunga-bunga lain yang perawatannya tidak terlalu rumit. Beberapa tahun lalu, beliau bahkan mulai memberikan sebagian tanamannya kepada saya karena kebunnya sudah terlalu penuh.

Saya pernah diberi pandan, tanaman kemuning, bayam, dan tanaman salam. Semuanya saya hargai sangat. Hanya, dengan jadwal yang cukup padat, terkadang sulit untuk merawatnya secara konsisten.

Tanaman bayam adalah favorit saya karena sangat berguna ketika saya membutuhkan tambahan sayur untuk masakan. Tantangan saya saat ini justru memindahkannya ke pot yang lebih besar.

Lucunya, teras rumah saya sekarang tidak memiliki tanah sama sekali. Hal itu sering mengingatkan saya pada rumah kedua yang saya tempati setelah menikah. Ini ceritanya…

Pernah Memiliki Lahan Luas, tetapi Tidak Dimanfaatkan

Rumah kedua yang kami tempati setelah menikah dan memiliki anak ternyata memiliki sebidang tanah kosong yang cukup luas tepat di depan rumah.

Saya rasa pemilik rumah awalnya berencana membangun rumah kontrakan lain di sana, tetapi belum sempat merealisasikannya.

Saat itu saya sama sekali tidak terpikir untuk menanam apa pun karena sedang sibuk mengurus bayi. Tidak lama kemudian, lahan tersebut dipenuhi rumput dan semak-semak.

Meski begitu, tempat itu menjadi area bermain yang menyenangkan bagi anak saya. Ia bisa berjalan-jalan dan bereksplorasi tanpa kami harus terlalu sering pergi ke taman. 

Tentu saja kami tetap harus berhati-hati terhadap kemungkinan adanya hewan yang tinggal di antara semak-semak tersebut. Alhamdulillah nggak ada sih binatang-binatang aneh yang datang.

Seingat saya, ada pohon pepaya di lahan itu. Mungkin juga ada pohon alpukat yang ditanam pemilik rumah usai kami tidak disitu. Kami pindah setelah dua tahun disitu, jadi detailnya sudah agak samar dalam ingatan.

Pelajaran dari Pohon Pepaya

Rumah keempat yang kami tempati memiliki sedikit area taman di bagian depan. Rumah ketiga sebenarnya juga punya, tetapi kami hanya tinggal di sana sekitar tiga bulan, jadi mungkin itu cerita untuk lain waktu.

Yang menarik, kedua rumah tersebut dan dua rumah setelahnya semua memiliki pohon pepaya. Semudah itu pohon pepaya tumbuh.

Di rumah keempat itulah saya akhirnya mencoba memasak daun pepaya sebagai menu sayuran keluarga. Awalnya saya tertarik karena tukang kebun sedang memangkas pohon pepaya dan daun-daunnya akan dibuang begitu saja.

Pohon pepaya di salah satu pekarangan rumah yang kami tempati

Ternyata ibu mertua saya mau mengambil daun-daun pepaya itu. Teman suami saya juga tampak senang ketika kami memberikan sebagian daun pepaya tersebut.

Karena penasaran, saya pun mencoba mengolahnya sendiri. Dan ternyata rasanya enak. Cara membuatnya juga mudah.

Kadang saya merasa sedikit bersalah ketika lupa bahwa ada daun pepaya yang bisa dipanen dari kebun kecil di rumah, tetapi tidak saya manfaatkan.

Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat saya sadar betapa praktis dan hematnya memiliki sumber makanan dari kebun sendiri. Selain itu, limbah juga berkurang karena tidak ada kemasan yang perlu digunakan ketika kita cukup memetik bahan makanan langsung dari halaman rumah.

Konten Berkebun dan Para Influencer

Beberapa influencer seperti Ballerina Farm dan lainnya membuat saya melihat betapa menyenangkannya menyiapkan makanan dari hasil tanah sendiri. Membuat roti, memetik buah dan sayuran, hingga memerah susu sapi terlihat begitu memuaskan—meskipun untuk urusan susu, saya tetap lebih nyaman membelinya di toko.

Tentu saja, sebagian besar konten tersebut juga berkaitan dengan pemasaran produk yang mereka jual di dunia kuliner dan homesteading. Namun saya bisa memahami mengapa konten seperti itu menarik bagi orang-orang yang menyukai makanan alami dan berusaha mengurangi konsumsi makanan dengan bahan pengawet.

Sebelum mengenal Ballerina Farm, saya lebih dulu mengikuti akun Creative Explained. Kontennya membuat kegiatan menanam terlihat sederhana dan tidak terlalu mengintimidasi. Bahkan sering kali ia menunjukkan bagaimana buah atau sayuran yang tersimpan di kulkas bisa ditanam kembali.

Tentu kenyataannya mungkin jauh lebih rumit daripada yang terlihat di media sosial. Ada proses menanam, merawat, menunggu panen, mencuci peralatan, dan berbagai pekerjaan lain yang tidak selalu terlihat di kamera.

Namun mungkin justru proses itulah yang membuat kita lebih menghargai makanan.

Mungkin suami saya juga bisa disebut sebagai salah satu “influencer” dalam hidup saya. Dulu ia pernah berkata bahwa ia ingin tinggal lebih dekat dengan alam dan menyediakan sebagian makanan dari halaman rumah sendiri. Saat itu saya merasa ide tersebut agak mustahil.

Mungkin karena saya pernah menonton acara televisi tentang keluarga-keluarga yang memutuskan meninggalkan kota dan hidup di lahan mereka sendiri. Hampir seluruh hari mereka dihabiskan untuk merawat tanaman, memanen hasil kebun, mengumpulkan bahan makanan, mendapatkan air bersih, hingga menghasilkan listrik dari tenaga surya.

Saat itu saya berpikir bahwa kehidupan seperti itu bukan untuk saya. Maklum, dulu saya sempat lama tinggal di Ibukota.

Namun selera dan pandangan hidup seseorang bisa berubah.

Sekarang, ketika mengingat kembali acara-acara tersebut, saya merasa tidak harus menjalani seluruh gaya hidup itu. Tetapi setidaknya saya ingin bisa berkebun dengan baik.

Ternyata tulisan ini menjadi jauh lebih mendalam daripada yang saya bayangkan ketika baru mulai menulisnya. Menarik juga melihat bagaimana begitu banyak pengalaman kecil selama bertahun-tahun perlahan membentuk ketertarikan saya terhadap berkebun.

Dan rasanya menyenangkan membayangkan menjadi seorang food blogger yang tidak hanya bercerita tentang makanan, tetapi juga tentang proses menanam, merawat, dan memanen bahan makanan langsung dari alam.

Kalau menurutmu bagaimana? Apa pendapat Anda tentang berkebun dan mendapatkan makanan dari kebun sendiri?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *