Cerita Tumbler Mini dan Tren Punya Tumbler – Saya ingat kira-kira 1 tahun lalu, tahun 2025, ada tren dimana kita harus punya tumbler untuk dibawa-bawa. Tren ini naik karena bersamaan dengan maraknya hidup go green untuk meminimalisir sampah plastik.
Waktu itu sih saya kepengen juga beli. Tapi setelah ditimbang-timbang lagi, kayanya akan jadi pajangan saja kalau punya pun. Karena aktivitas saya lebih banyak di rumah. Lagipula, tumbler yang bagus range harganya 100-200 ribuan. Sayang bukan kalau cuma dipakai sesekali saja?
Walaupun suka jajan kopi, tapi tempat beli kopi harus ditempuh dengan kendaraan. Beda jadinya kalau kedai kopi bisa didatangi jalan kaki, mungkin saya bisa bawa tumbler sebagai ganti gelas plastik.
Nyatanya saya lebih banyak ada di rumah. Tumbler sebenarnya ada tapi dibeli sebelum nge-trend. Lucu juga sih kalau mengingat alasan saya membelinya.
Tumbler Mungil, Harapan Mini Me-Time
Kira-kira ketika saya putuskan mencari tumbler mungil dengan harga terjangkau, adalah ketika tiba-tiba si kecil punya teman main tetangga. Mereka bertemu di taman kecil dekat rumah yang merupakan taman komplek. Taman itu juga relatif sepi jadi kalau kesitu terasa privat. Saya senang si kecil punya teman main yang seru.
Si nenek teman si kecil bilang, untuk sering-sering aja main sama-sama di taman. Tentu saja saya senang. Soalnya si kecil yang masih berumur 4 tahunan suka ngga tentu dapat teman main. Seasonal atau kadang-kadang saja.
Tapi si nenek mengajak main pagi hari. Nah, jadi saya mikir deh kalau kemungkinan besar saya masih ngantuk. Hmm, daripada saya bawa-bawa mug ke taman, walau memang dekat sih jaraknya, tapi lebih nyaman bawa tumbler. Rasanya menyenangkan menyeruput kopi atau teh sambil mengawasi anak main.
Jadilah saya mulai browsing di toko e-commerce tumbler yang sesuai dengan keinginan dan budget. Lama banget saya ‘menjelajah’ toko online mencari yang sesuai saya mau. Karena saya cukup pemilih dari desain. Lebih susah lagi kalau mikirin anggaran.
Ketemunya di toko online khusus barang-barang Jepang kalau ngga salah. Tapi harganya miring. Saya nggak gitu memperhatikan nama tokonya. Senang deh waktu terima produknya.
Ternyata si tumbler sebenarnya representasi waktu emak bisa me-time dengan ngopi, walau mungkin cuma 15 menit nemenin anak main.
Aslinya? Ternyata ngga pernah kejadian lagi si kecil main dengan anak tetangga. Jadwal kami ngga pernah ketemu. Kalaupun ketemu, itu lagi ngga disangka-sangka. Jadinya si tumbler mungil cuma dipakai sesekali.
Kini si tumbler malah lebih sering dipakai paksu. Kalau dia buru-buru harus jalan tapi butuh kopi untuk energy booster. Kadang-kadang saya pakai kalau lagi nanggung minum kopi tapi harus keluar rumah.
Tumbler yang Ideal Seperti Apa?
Tentu saja tumbler yang oke adalah yang dari bahan bagus dan tahan lama menyimpan panas atau dingin air yang dibawa. Tumbler yang memang sesuai harganya. Kalau desain dan ukuran sudah macam-macam ada di pasaran.
Sebenarnya walaupun kita sering ada di rumah, nggak apa-apa juga sih punya. Mungkin bisa jadi pilihan wadah minuman kalau kita harus duduk lama di meja kerja.
Tapi bahannya ngga perlustainless steel. Bisa saja berbahan keramik. Kalau mau menghindari microplastic dan kenyamanan membersihkannya.
Pernah juga saya temukan tumbler yang bentuknya seperti tumbler untuk dibawa-bawa, tapi ternyata bahannya keramik. Saya bertanya-tanya maksudnya apa tumbler itu, karena kalau dibawa kan jadi ngeri pecah. Tapi mungkin tumbler demikian diperlukan untuk ibu rumah tangga?
Ketika kumpul-kumpul keluarga maupun dengan teman-teman, saya melihat ada yang membawa tumbler khusus untuk membawa air putih. Memang sebuah opsi yang bagus daripada jajan botol minuman air putih. Selain hemat, juga mengurangi sampah.
Ada juga yang sengaja membawa air putih hangat. Kemungkinan lebih bagus mengkonsumsinya demi kesehatan maupun diet.
*****
Begitu saja cerita saya dengan tumbler mungil yang saya punya. Menurutmu, tumbler yang ideal seperti apa? Dan merk apa yang direkomendasikan?
