Tak Perlu Banyak Social Circle Tapi Ada di Right Circle

Tak Perlu Banyak Circle Tapi Ada di Right Circle – Saat remaja, rasanya menjadi populer adalah hal yang sangat keren. Saya tumbuh di tahun 90an dan jamannya banyak serial plus baca seri buku remaja. Disana tercitrakan bahwa populer dan disukai banyak orang means bahagia. 

Tapi di usia remaja saya juga sadar, saya ngga seperti pribadi kebanyakan. Interest saya sering unik sendiri. Kalau banyak orang suka sesuatu dan jadi overrated, saya malah jadi ngga tertarik. Dulu hal ini buat saya minder. Sekarang saya malah merasa itulah karakter saya.

Ternyata, saat kuliah saya masuk ‘kolam’ manusia-manusia unik, sampai saya jadi ngerasa ‘biasa’ banget. Sekolah di fakultas seni dan desain jadi selalu bergulat dengan ide dan gagasan out of the box. Disinilah saya mulai benar-benar embrace keunikan saya. It is how God intended me to be.

 

Berada Dalam Geng, Social Circle yang Tidak Realistis 

Geng, seringnya adalah sebuah grup pertemanan yang solid dan berada di dalam lingkungan sosial yang lebih besar. Umumnya geng berarti tidak sering kumpul atau bergaul dengan orang-orang di luar geng mereka. Dan juga cenderung dianggap membatasi diri dari interaksi dengan yang lain.

Saya termasuk yang sebenarnya ngga nyaman berada di dalam geng, walau saya termasuk ke dalam geng. Namun lingkungan ‘mengharuskan’ saya masuk ke dalam circle seperti geng. Demikianlah social rules pada umumnya, kalau ngga cocok kemana-mana akan susah fit in

Kalau saya terlalu nyaman dalam geng, sebenarnya saya sedang menipu diri sendiri. Karena sewajarnya manusia punya kekurangan, ngga mungkin 100 persen cocok. Manusia juga evolve, berkembang dan value-nya bisa berubah. 

Jadi wajarlah kalau kita berteman dengan A karena cocok dalam 1-2 hal dan berteman dengan B karena cocok dengan hal lain. Konsep geng-gengan itu sedikit dipaksakan sebenarnya, karena ngga cocok dengan fitrah manusia dari sananya. 

Beberapa sifat saya ngga cocok berteman pada perempuan pada umumnya. Dan saya juga ngga begitu suka beberapa karakter perempuan yang baper plus terlalu sensitif. Dulu-dulu ngga ada maksud apa-apa, tapi diasumsikan macam-macam. 

Kalau di usia kepala 4 ini, saya berusaha lebih peka. Juga lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Di saat yang sama, saya bersyukur di usia saya dan orang-orang sepantaran, pada umumnya sudah open minded dan bisa berpikir logis. Ngga termakan asumsi semata. 

Dicap Kalem & Introvert, Tak Disangka Jadi Pemicu Circle Baru

Menjawab berapa banyak circle yang saya punya kini, saya jadi tersadar bahwa mungkin circle saya ngga sebanyak wanita bekerja kantoran. Dan yang anaknya sekolah di sekolah formal. 

Ibu freelancer dan homeschooler macam saya yang kerja di rumah, ngga banyak masuk circle tertentu. Dan sifat introvert saya juga ngga buat saya nyaman masuk langsung ke berbagai grup. 

Alhamdulillah, internet dan memilih sebagai blogger memperluas jejaring saya. Dan mungkin karena saat itu saya butuh koneksi, tak disangka malah menginisiasi subgrup di komunitas ibu-ibu alumni kampus. 

Saya, si pribadi introvert dan pernah dicap pendiam. Tapi, dengan tanggung jawab ini saya belajar banyak hal. Di samping privilese mengatur grup, pengurus dan member sesuai yang menurut saya benar, saya sering memikirkan bagaimana komunitas berjalan nyaman. 

Komunitas itu kini sudah berjalan 5 tahun. Dan saya ikut berevolusi di dalamnya. Alhamdulillah, saya ‘bertemu’ teman-teman baru yang unik dan wawasannya luas. 

Saya sangat peduli dengan mental health Ibu. Dan jalan yang saya tahu adalah dengan menulis di blog. Atau menulis di tempat private seperti notes digital maupun journaling

Ada kalanya saya merasa agak lelah. Karena saya cenderung punya banyak ide, tapi energi dan waktunya sempit. Anggota ibu-ibu kan juga kesibukannya cenderung tinggi.

Kini beberapa pengurus bisa jalan sendiri dan saya senang melihat mereka antusias mengurus setelah jalan beberapa tahun. 

Selektif dengan Teman di Kepala 4

Dibanding usia 30 tahunan, di usia kepala 4 ini saya lebih menyeleksi teman. Nggak semua acara kumpul-kumpul saya datangi. Misalnya acara buka puasa bareng, saya udah sangat jarang datang sejak menikah (kecuali acara keluarga). Karena tanggung jawab sebagai istri dan ibu membuat saya berpikir berulang kali meninggalkan rumah.

Kadang, telah datang pun ternyata saya ngga gitu nyambung dengan circle itu. Sepertinya saya tipe yang lebih suka datang ke grup kecil berisi 2-3 orang. Atau bahkan 1 sahabat saja. 

Seperti banyak karakter introvert lainnya, saya gampang lelah kalau datang ke acara dengan banyak orang. Mungkin itu kenapa saya cocok mengurus komunitas online, hihi.  Grup chat yang aktif saya hadir cuma subkomunitas yang saya urus. Dan 1 grup teman-teman kuliah yang sering barengan ketika kuliah. 

Begitulah, circle pertemanan saya nggak banyak. Tapi saya ngga keberatan. Lagipula, meminimalisir kegiatan yang tidak berfaedah. Juga menghindari ghibah ;). 

Bagaimana dengan circle pertemananmu sendiri?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *